PETA PULAU JAWA BERWARNA
HIJAU terlihat berlapis-lapis dengan gradasi warna lebih
muda di bagian atas. Peta itu dikelilingi labirin yang menjulang tinggi.
Pulau Jawa pun terlihat sebagai sebuah labirin. Lukisan surealis yang
menggunakan media akrilik di atas papan itu bertajuk Key to the Empire,
karya pelukis Kanada, Ken
Pattern (62), yang merupakan salah satu lukisan dalam
pameran tunggalnya di Hotel The Four Seasons, Jakarta, 2 Desember 2004
hingga 16 Januari 2005.
"Labirin adalah simbol yang tepat untuk menggambarkan Indonesia.
Untuk memahami Indonesia, dibutuhkan pemahaman tentang apa yang berlaku
di Jawa, karena negara ini sangat didominasi Jawa, yang menjadi pusat
kekuatan ekonomi dan politik," ungkap Ken.
Toh, menurutnya, memahami Jawa bukan pekerjaan gampang. "Sekali
Anda masuk ke sebuah labirin untuk menemukan jantung 'kerajaan', Anda
akan dihadapkan pada labirin-labirin di dalam
|
1. Command Performance
2. Gunung Pangrango Estate
3. City Square
4. Key to the Empire
5. Ken Pattern, kritis terhadap persoalan social, politik, dan lingkungan
hidup |
|
 |
labirin dan Anda harus berurusan dengan banyak lapisan,"lanjut
pelukis yang lebih dikenal lewat gambar-gambar litografi hitam-putih,
yang merekam kontrasitas kehidupan Jakarta, ini.
Tinggal di Jakarta sejak 1989, Ken memang sangat memahami Indonesia.
Ia mengalami banyak peristiwa penting di Indonesia, mulai dari pemerintahan
Orde Baru, krisis moneter, lengsernya Soeharto, hingga pergerakan reformasi.
Tak mengherankan bila karya-karyanya menyimpan satir tentang isu-isu
sosial politik negeri ini. Tengoklah lukisan Command Performance, yang
menggambarkan pemandangan masyarakat yang ruwet, dilihat dari posisi
kekuasaan yang lebih tinggi. Lihatlah kotak-kotak hitam-putih yang menjadi
simbol percaturan politik, dan pilar-pilar yang menggambarkan kekuasaan.
"Awalnya, lukisan ini saya beri judul View from the Palace. Dan,
pada saat pameran tahun 2000, saya mengubahnya menjadi Looking for Tommy,
karena saat itu Tommy Soeharto sedang jadi buronan. Lalu, jadi Command
Performance”, jelas Ken, yang dalam pameran ini juga menghadirkan
gambar-gambar litografi tentang Jakarta dan pelosok Indonesia, serta
lukisan-lukisan bertema luar negeri.
Tak hanya isu sosial politik, Ken juga sangat memperhatikan persoalan
lingkungan hidup. Ini bisa dilihat dari lukisan bertajuk Gunung
Pangrango Estate, Oasis, dan City Square. Ada
sebuah sindiran tajam, yang menggambarkan keprihatinannya yang sangat
dalam.
"Kita makin jauh mengeksploitasi lingkungan hidup. Kita tak pernah
puas pada apa yang kita miliki”, cetusnya.
"Saya merasa terdorong untuk bercerita, mendokumentasikan kebenaran
tentang yang terjadi dengan planet kita. Kalau kita menghancurkan Bumi,
dimana kita akan tinggal?” Lanjutnya, miris.
GRACIA
DANARTI
|