Home > Articles

by Gracia Danarti
Femina 13-19 January 2005


MENELUSURI LABIRIN KEN PATTERN

Lewat sapuan akrilik di atas papan, ia bertutur tentang kehidupan sosial, politik, serta lingkungan hidup yang makin mengkhawatirkan dan sulit dicarikan solusinya.

 

PETA PULAU JAWA BERWARNA HIJAU terlihat berlapis-lapis dengan gradasi warna lebih muda di bagian atas. Peta itu dikelilingi labirin yang menjulang tinggi. Pulau Jawa pun terlihat sebagai sebuah labirin. Lukisan surealis yang menggunakan media akrilik di atas papan itu bertajuk Key to the Empire, karya pelukis Kanada, Ken Pattern (62), yang merupakan salah satu lukisan dalam pameran tunggalnya di Hotel The Four Seasons, Jakarta, 2 Desember 2004 hingga 16 Januari 2005.

"Labirin adalah simbol yang tepat untuk menggambarkan Indonesia. Untuk memahami Indonesia, dibutuhkan pemahaman tentang apa yang berlaku di Jawa, karena negara ini sangat didominasi Jawa, yang menjadi pusat kekuatan ekonomi dan politik," ungkap Ken.

Toh, menurutnya, memahami Jawa bukan pekerjaan gampang. "Sekali Anda masuk ke sebuah labirin untuk menemukan jantung 'kerajaan', Anda akan dihadapkan pada labirin-labirin di dalam

  1. Command Performance
2. Gunung Pangrango Estate
3. City Square
4. Key to the Empire
5. Ken Pattern, kritis terhadap persoalan social, politik, dan lingkungan hidup

labirin dan Anda harus berurusan dengan banyak lapisan,"lanjut pelukis yang lebih dikenal lewat gambar-gambar litografi hitam-putih, yang merekam kontrasitas kehidupan Jakarta, ini.

Tinggal di Jakarta sejak 1989, Ken memang sangat memahami Indonesia. Ia mengalami banyak peristiwa penting di Indonesia, mulai dari pemerintahan Orde Baru, krisis moneter, lengsernya Soeharto, hingga pergerakan reformasi. Tak mengherankan bila karya-karyanya menyimpan satir tentang isu-isu sosial politik negeri ini. Tengoklah lukisan Command Performance, yang menggambarkan pemandangan masyarakat yang ruwet, dilihat dari posisi kekuasaan yang lebih tinggi. Lihatlah kotak-kotak hitam-putih yang menjadi simbol percaturan politik, dan pilar-pilar yang menggambarkan kekuasaan.

"Awalnya, lukisan ini saya beri judul View from the Palace. Dan, pada saat pameran tahun 2000, saya mengubahnya menjadi Looking for Tommy, karena saat itu Tommy Soeharto sedang jadi buronan. Lalu, jadi Command Performance”, jelas Ken, yang dalam pameran ini juga menghadirkan gambar-gambar litografi tentang Jakarta dan pelosok Indonesia, serta lukisan-lukisan bertema luar negeri.

Tak hanya isu sosial politik, Ken juga sangat memperhatikan persoalan lingkungan hidup. Ini bisa dilihat dari lukisan bertajuk Gunung Pangrango Estate, Oasis, dan City Square. Ada sebuah sindiran tajam, yang menggambarkan keprihatinannya yang sangat dalam.
"Kita makin jauh mengeksploitasi lingkungan hidup. Kita tak pernah puas pada apa yang kita miliki”, cetusnya.
"Saya merasa terdorong untuk bercerita, mendokumentasikan kebenaran tentang yang terjadi dengan planet kita. Kalau kita menghancurkan Bumi, dimana kita akan tinggal?” Lanjutnya, miris.

GRACIA DANARTI

Return to Articles